Connect with us

Baselo

Buah Keimanan Kepada Takdir

Featured

Buah Keimanan Kepada Takdir

BUAH KEIMANAN KEPADA TAKDIR

Sahabat.. Sungguh berbahagialah orang yang pengimanan terhadap takdir Allah subhanahu wa ta’ala menghujam kuat di dadanya, dia akan selamat dari rasa UJUB, karena apabila dia mendapat musibah maka dia bersabar, tidak kecewa dan bersedih hati. Apabila ia mendapat kesenangan dia bersyukur dan tidak merasa bangga atas apa yang telah ia usahakan karena tidak ada yang menetapkan musibah dan rezeki baginya kecuali Allah subhanahu wa ta’ala. Sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta’ala:

“Tiada suatu bencana pun yang menimpa di bumi dan pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. Supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Alloh tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (QS. Al Hadid: 22-23)

Sahabat.. Apabila seseorang diuji oleh Allah subhanahu wa ta’ala dengan amal shalih yang telah diperbuatnya dia tidak ujub dan merendahkan pelaku maksiat, bila dia diuji Allah subhanahu wa ta’ala dengan perbuatan maksiat dia tidak terus-menerus dalam perbuatan tersebut, dia bertaubat dan tetap berprasangka baik kepada-Nya. Karena Allah subhanahu wa ta’ala telah berfirman,

“Dan kamu tidak mampu (menempuh jalan itu), kecuali bila dikehendaki Allah. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (QS. At Takwir: 29)

Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda:

“Tak seorang pun di antara satu jiwa kecuali telah ditetapkan tempatnya di neraka atau di janah dan telah ditetapkan untuknya akan hidup sengsara dan bahagia. Seseorang dari suatu kaum bertanya: ‘Ya Rasulullah mengapa kita tidak pasrah dengan ketetapan itu dan meninggalkan amalan? Jika di antara kita ada yang akan hidup bahagia maka ia akan beramal dengan amalan orang berbahagia dan barang siapa yang sengsara maka ia akan beramal dengan amalan orang yang sengsara?’ Beliau shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: BERAMALAH’ ! Masing-masing dimudahkan untuk menempuh apa yang ditetapkan untuknya, jika ia termasuk orang yang sengsara maka ia akan mudah untuk beramal dengan amalan orang yang sengsara dan jika ia termasuk orang yang berbahagia maka ia akan mudah untuk beramal dengan amalan orang yang berbahagia.’ Kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca ayat: “Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa, dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga), maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah. Dan adapun orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup, serta mendustakan pahala yang terbaik, maka kelak kami akan menyiapkan baginya jalan yang sukar.” (QS. Al-Lail: 5-10). (HR. Bukhori dan Muslim)

Sahabatku.. Betapa banyak orang yang telah diuji Allah subhanahu wa ta’ala dengan kebaikan, kemudian kebaikan tersebut menjadikannya dia bersifat SOMBONG lagi membanggakan diri (ujub) kemudian Allah subhanahu wa ta’ala membinasakannya ke jurang kemaksiatan (Na’udzubullahi min dzalik). Dan betapa banyak pula orang yang di uji Allah subhanahu wa ta’ala dengan kemaksiatan kemudian dia bertaubat, kemudian Allah subhanahu wa ta’ala menakdirkan baginya untuk menjadi orang yang bertakwa dan memberikan kedudukan yang mulia baginya di surga. Inilah makna firman Allah subhanahu wa ta’ala:

“Kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal saleh; maka itu kejahatan mereka diganti Alloh dengan kebajikan. Dan adalah Alloh maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al Furqon: 70)
Sahabat.. Berdasarkan firman Allah subhanahu wa ta’ala dalam sebuah hadits Qudsi, “Sesungguhnya Aku sebagaimana persangkaan hamba-Ku kepada-Ku, jika dia berprasangka baik kepada-Ku maka baginya kebaikan dan apabila dia berprasangka buruk kepada-Ku maka baginya keburukan.” (HR. Ahmad)

Sahabat.. Maka wajib bagi kita untuk berprasangka baik terhadap Allah subhanahu wa ta’ala tatkala diuji dengan kemaksiatan, bahwasanya Allah subhanahu wa ta’ala menakdirkan bagi kita perbuatan tersebut agar kita menyadari bahwa ketika telah berbuat kebaikan kita sering lupa bahwa sesungguhnya hal tersebut tidak akan terjadi melainkan dengan takdir Allah subhanahu wa ta’ala, sehingga kita merasa bangga atas apa yang telah kita upayakan. Sesungguhnya tatkala seorang hamba merasa sombong dan mengangkat diri dihadapkan manusia, maka Allah subhanahu wa ta’ala akan menghinakannya di mata manusia. Hanya kepada Allah lah kita memohon pertolongan.

Lereng Merapi, Sleman, Yogyakarta, 3 Muharam 1439
Yuko Siswanto Abu Tata
WA : 08112576173

Continue Reading
Comments

More in Featured

To Top