Connect with us

Baselo

Bukan Inginku Melupakanmu

Bukn Inginku Melupakanmu
Ilustrasi: Deviantart

Fiksi

Bukan Inginku Melupakanmu

Kutatap lekat bulir-bulir air yang serupa embun di balik jendela, jemariku mulai menulis sesuatu, namaku dan namamu, lalu ada gambar sederhana sepasang lelaki dan perempuan dengan hati di antara mereka

Rintik gerimis yang mengetuk atap selalu menjadi irama favoritku. Ketukan demi ketukan yang bergerumbul dan tak bernada, pula tak teratur, tetap menyamankan kedua daun telinga yang bosan dengan kebisingan ibukota. Gesekan batang pohon yang membelai tembok tinggi dengan daunnya juga merupakan alunan kesukaanku. Banyak yang bilang suara gesekan itu terdengar menyeramkan sekaligus menegangkan, aku tetap bersikukuh bahwa pohon rindu pulang, pohon ingin mempunyai tempat yang bisa ia sebut rumah, lengkap dengan atap dan tembok, namun tanpa lantai.

Kutarik kursi belajar mendekati jendela yang kubiarkan sedikit terbuka. Aku cinta petrichor–aroma hujan yang membasahi tanah. Aku betah duduk diam berlama-lama di sini, menikmati sepaket hadiah Tuhan dalam bungkusan hujan. Kutatap lekat bulir-bulir air yang serupa embun di balik jendela, jemariku mulai menulis sesuatu, namaku dan namamu, lalu ada gambar sederhana sepasang lelaki dan perempuan dengan hati di antara mereka. Kenangan itu menjamah lagi, menelanjangi tiap lara yang telah aku permak sedemikian rupa.

Hari itu, 4 November 2009 , ada janji cinta terucap di antara kita. Lebih tepatnya, sebuah kesepakatan. Hari itu tak ada kebahagiaan berlebih, karena aku masih menyimpan rasa terhadap lelaki terdahulu. Semua terasa biasa saja, tak ada yang istimewa, hanya sebuah kesepakatan bahwa kita saling memiliki. Namun entah sejak kapan, aku mulai mencandumu. Aku akan menangis jika tahu ada wanita yang lain yang dekat denganmu, ada rasa tak ingin berbagi dan cemburu yang meluap-luap.

Hubungan kita tak manis, jarak adalah bumerang utama. Kita jarang bersama, kau selalu bisa menghiraukanku, ya aku tahu acuh adalah sifatmu. Ah tapi tak adil jika aku membahas keacuhanmu terhadapku, karena banyak hal indah terselip di antara kita. Hal manis yang tak ingin kubagi dengan siapapun, sekalipun dengan hujan yang sedang kutatap saat ini.

Baiklah, akan kukisahkan secuil saja, hmm aku akan ingin detik berhenti berdetak saat kau mencium keningku dan memelukku erat, mencium kening sekali lagi, lalu memeluk lebih erat. Aku tahu kisah kita jauh dari kata sempurna, jauh dari sebuah harapan tentang hubungan yang manis dan penuh rindu.

Kita –terutama aku- sering dirasuki cemburu, menyulut pertengkaran yang berakhir dengan sebuah pelukan. Ketika emosi tak lagi tertahan dan air mata mulai mengalir, kau akan dengan sigap memelukku, begitu erat, lalu kau hapus air mataku, memelukku sekali lagi dan tak lupa mencium keningku, begitu lama, begitu nyaman.

Lamunanku buyar, ibu mengetuk pintu kamarku dan membawakan segelas teh hangat, lengkap dengan biskuit kesukaanku.

“Melamun lagi?”

“Nggak bu”

“Udah ndak usah dipikir, kalau jodoh ndak bakal kemana. Tohyang ngejar-ngejar kamu ndak cuman satu. Tuh ada si Viktor, Galih sama Fadil, trus ada juga yang sering maketin buku tuh siapa namanya?”

”Praja, bu”

“Oh iyaa Praja, Ibu sampai lupa. Udah pokoknya kamu ndak usah liat-liat ke belakang. Ingat kata-kata Ibu, jodoh ndak bakal kemana, Nduk”

“Iya bu. Terima kasih”

Tak berapa lama setelah Ibu keluar, handphoneku berdering, nomor tak dikenal ini lagi kembali menelfonku. Entah aku harus menganggapnya teror atau iseng, nomor ini kerap sekali menghubungiku, tiap kali kuangkat selalu dimatikan. Sempat terfikir untuk memblokir nomor tersebut, namun selalu kuurungkan. Seperti ada yang berbisik bahwa suatu saat nomor itu akan membawa rindunya pulang padaku.

—Di Ujung Telefon—

Apalah aku sekarang ini, ingatanku tentangmu kerap kabur entah kemana. Seringkali aku mengingatmu, lalu kemudian melupakanmu begitu saja. Sesekali aku ingat ada seseorang berpakaian putih yang mengatakan bahwa aku mempunyai penghapus di otakku, yang disebut Alzheimer.

Tiap kali ingatan tentangmu datang, aku akan mengambil telefon dan menekan nomormu yang dulu kuhafal di luar kepala, dan saat suaramu terdengar, yang bisa kulakukan hanya meletakkan kembali gagang telefon, tersenyum bahagia lalu lupa apa yang kulakukan sebelumnya. Beginilah aku sekarang, Sayang. Kuingin kau mengerti satu hal bahwa bukan inginku melupakanmu. Maafkan aku.

___
Penulis: Ilustrasi

Continue Reading
Comments

More in Fiksi

  • Ransel Orange, Sore dan Halte Ransel Orange, Sore dan Halte

    Fiksi

    Ransel Orange, Sore dan Halte

    By

    Aku selalu berteman sore dan ransel orange. Sore selalu menaungi, tak peduli ia tengah sedih atau...

  • Masih Tentangmu Masih Tentangmu

    Fiksi

    Masih Tentangmu

    By

    ada sesak mengguncang batin dan tangis yang membuncah tiap malamnya

  • Cara Menjaga Ladang dari Serangan Babi Cara Menjaga Ladang dari Serangan Babi

    Fiksi

    Asal Jangan

    By

    Di cakar boleh Asal jangan di tukar Di tukar boleh Asal jangan di bakar Di bakar...

  • kita bercinta kita bercinta

    Fiksi

    Haruskah Aku Membenci Mereka?

    By

    Aku gagal mengingat kapan pertama kali jumpa namun aku langsung gembira tiap kali mereka datang. Aku...

  • kita bercinta kita bercinta

    Fiksi

    Kita

    By

    Terdiam merenung sendu Ku bersenandung rindu Terbayang perjalanan waktu Sebuah kisah masa lalu Tiada lagi nyanyian...

To Top