Kota Pariaman yang merupakan daerah yang memiliki masyarakat yang majemuk ditambah lagi daerah tujuan wisata memiliki potensi kerawanan sosial. Penanganan potensi kerawanan sosial ini tidak saja tanggungjawab pemerintah. Secara keseluruhan keterlibatan tokoh masyarakat seperti niniak mamak, alim ulama, pemuda dan bundo kanduang (social leader) sangat dibutuhkan.

Dalam upaya pemberdayaan social leader Pemerintah Kota Pariaman telah melakukan berbagai upaya dengan melakukan pembinaan dan fasilitasi untuk tumbuh dan berkembangnya nilai-nilai budaya dan pembinaan pada lembaga-lembaga sosial serta pelestarian dan pembinaan kesenian dan permainan anak nagari.

Agar terbentuknya kembali nilai-nilai budaya dan kearifan lokal di Kota Pariaman, Pemerintah telah membangun kembali lembaga-lembaga sosial seperti memperkuat keberadaan Kerapatan Adat Nagari dengan memberikan fasilitas seperti pembangunan kantor KAN, membantu biaya operasional setiap tahunnya dan melakukan pembinaan terhadap pengurus KAN dan niniak mamak melalui program-program pelatihan dan pembinaan tokoh adat oleh masing-masing SKPD.

Untuk tingkat Kota Pariaman keberadaan LKAAM dan Bundo Kanduang sangat didukung oleh Pemerintah Kota Pariaman dengan memberikan fasilitas-fasilitas agar keberadaan LKAAM dan Bundo Kanduang dapat menjadi salah satu mitra pemerintah dalam pelestarian nilai-nilai budaya.

Salah satu fasilitasi Pemerintah Kota Pariaman terhadap pelestarian nilai-nilai budaya pada LKAAM dan Bundo Kanduang adalah Pemerintah Kota Pariaman akan melaksanakan acara “batagak gala”. Batagak gala ini adalah salah satu bentuk perhatian Pemerintah Kota Pariaman dalam melestarikan dan menghidupkan kembali potensi social leader yang nantinya dapat membantu pemerintah dalam merumuskan dan menegakkan aturan-aturan adat ditengah-tengah masyarakat.

Program Pemerintah Kota Pariaman dalam menghidupkan dan melestarikan kearifan lokal yang sudah hilang ditengah masyarakat telah dibentuk “Dubalang Desa dan Barakai “. Dubalang adalah orang atau individu yang secara adat dan budaya memiliki kemampuan fisik dan kemampuan  akal dalam menegakan keamanan dan ketertiban ditengah masyarakat. Kemudian “Barakai” adalah anggota masyarakat yang diberi kepercayaan untuk mewujudkan kebersihan dan keindahan nagari. Keberadaan dubalang inilah yang nantinya akan dijadikan sebagai mitra pemerintah dalam membina dan menegakan ketertiban dan keamanan ditengah masyarakat, karena dubalang diyakini memiliki kemampuan interaksi dan komunikasi sosial dan dekat dengan masyarakat.

Kemudian Kota Pariaman dalam pelestarian kesenian dan permainan anak nagari telah banyak melakukan pembinaan-pembinaan terhadap anak nagari untuk kembali menghidupkan kembali kesenian tradisional dan permainan anak nagari.

Upaya pembinaan ini dilakukan dalam bentuk memfasilitasi dan mendorong dihidupkannya kembali kesenian tradisional seperti randai, silek, dan gandang tasa. Untuk mensosialisasikannya serta memasyarakatkan kembali kesenian tradisional itu setiap iven dan acara-acara yang ada di Kota Pariaman kesenian randai, silek, gandang tasa dan pepatah petitih adat selalu ditampilkan baik acara yang diadakan pemerintah maupun acara yang di adakan masyarakat/organisasi.

DIRGAHAYU KOTA PARIAMAN KE-14. SABIDUAK SADAYUANG

__
Penulis: Priyaldi, S. Sos, Dosen STIA BNM Pariaman
Diedit oleh @cizzos