Connect with us

Baselo

Ransel Orange, Sore dan Halte

Ransel Orange, Sore dan Halte
instagram.com

Fiksi

Ransel Orange, Sore dan Halte

Aku selalu berteman sore dan ransel orange. Sore selalu menaungi, tak peduli ia tengah sedih atau berjingga, ia akan selalu ada

Hujan kembali berderap, membasahi tanah yang belum kering karena hujan semalam. Bangunan megah itu masih terlihat kokoh, dengan lampu terang nan hangat yang menyinari tiap ruangannya, ada pula kemerlip lampu pada taman yang menambah keindahan. Seakan menghiraukan hujan, bangunan itu menawarkan kehangatan di dalamnya, dia tak peduli hujan jatuh lebih banyak atau air di saluran mengalir lebih deras. Dia menulikan diri terhadap dentuman petir yang menyambar, dia pun menutup mata dari kilatan yang menyilaukan mata layaknya blitz kamera.

Di halte yang berseberangan dengan gedung itu, terlihat seorang gadis yang selalu duduk di situ sepanjang sore. Tak peduli hujan sedang deras atau matahari menyengat, dia akan duduk di situ sembari memangku sebuah ransel orange yang mengembung dan membaca sebuah novel.

 

-SI GADIS-

Ah sore, harusnya kau tak semendung ini. Hujan terlalu deras untuk kulalui sendirian saja, dinginpun terlalu menusuk untuk aku yang hanya berbalut jumpsuit dan sweater tipis. Halte inipun terlalu sempit untuk melindungiku dari pantulan air hujan yang berbenturan dengan jalanan, tak jarang pula cipratan air dari mobil turut membasahi sepatu atau celanaku.

Aku selalu berteman sore dan ransel orange. Sore selalu menaungi, tak peduli ia tengah sedih atau berjingga, ia akan selalu ada. Begitu pula dengan ransel orange, tas menggembung yang berisikan benda-benda kenangan dan sebuah kotak yang kuisi dengan berbagai kebahagian mengejutkan.

Aku tak pernah lupa untuk membawa ransel orange saat keluar rumah. Isi dari ransel itupun tak pernah berubah,tak pernah kukeluarkan, karena aku takut lupa untuk memasukkannya kembali. Pernah suatu ketika, ada seorang teman menyembunyikan ransel orangeku selama 2 hari, aku seperti kehilangan sebuah pegangan, karena aku tak pernah berpisah dari ransel orange, makanpun aku enggan, aku menjalani 2 hari itu dengan tampang kusut. Mungkin ransel orangeku akan “hilang” lebih lama jika tak ada dia yang meminta temanku untuk mengembalikannya padaku. Iya, DIA! Dia membuatku lebih mencintai ransel orangeku.

Dulu, pada tiap sore yang biasa aku dan dia selalu menunggu bis di halte ini sepulang sekolah. Dia dengan jam sport di pergelangan tangan kiri dan sebuah ransel yang hanya diselempang sembarangan. Aku masih ingat bagaimana ekspresinya saat bis yang seharusnya tiba pukul 16.30 ternyata terlambat karena kemacetan saat Pak Presiden mengunjungi kota kami. Sampai saat inipun aku masih dapat mencium aroma macho tubuhnya dan cengiran khasnya saat kudapati dia sedang menjahili seseorang.

Aku masih ingat bagaimana ekspresinya saat menanyakan padaku apa arti ransel orange ini, dia mengatakan bahwa dia khawatir saat melihatku murung karena kehilangan ransel orangeku. Aku tak menjawab apa-apa, hanya tersipu dan tersenyum. Lalu di luar dugaanku, dia menyambar ransel orange yang sedang kupangku dan membawanya lari, sontak aku berteriak, dan ku dengar ia tertawa terbahak sembari berteriak “Ayo sini, susulin aku! Hahahaha”. Aku hanya diam, duduk memandanginya tanpa berusaha mengejarnya karena aku terlalu lemah untuk berlarian, saling mengejar seperti adegan-adegan film Bollywood bukanlah hobiku. Tak butuh waktu lama untuknya menyerah dan kembali lalu mengembalikan ranselku. Sama sepertimu, sore, aku yakin dia pasti kembali, tepat seperti waktu dia berlari lalu kemudian kembali.

Setelah kejadian dia membawa lari ranselku, malamnya aku membongkar isi ranselku untuk mencuci lunch box dan botol minum, tapi tetiba mataku tertuju pada sebuah amplop coklat besar yang aku ingat betul bukan milikku. Segera kuambil amplop itu, dan ada post it tertempel di satu sisi, tertulis “ini kejutan untukmu, setelah kau membaca ini, percayalah aku pasti kembali padamu, persis seperti tadi siang”. Kubuka amplop itu dan kutemukan beberapa carik kertas tentang penerimaan Mahasiswa Baru di Hz University, Belanda, ada pula kertas duplikat tiket keberangkatan. Rupanya dia berangkat besok sore, penerbangan jam 6 sore dari Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Air mataku beku, aku tak bisa menangis, aku hanya berteriak di balik bantal untuk meredam suaraku. Selama ini tak ada yang mau menjadi teman dekatku, tapi dia rela menghabiskan sebagian besar waktunya untuk mendorong kursi rodaku di saat temannya yang lain sedang bermain bola. Masih kuingat betul kata indahnya, “Aku bersedia menjadi pengganti kakimu yang diamputasi”.

Malam telah menjemput sore. Maaf, aku harus pulang. Esok kan kutunggu dia di halte ini, tempat yang pertama kali ia tuju saat kembali.

___
Penulis: Melina A Chrissanti
Continue Reading
Comments

More in Fiksi

  • Masih Tentangmu Masih Tentangmu

    Fiksi

    Masih Tentangmu

    By

    ada sesak mengguncang batin dan tangis yang membuncah tiap malamnya

  • Cara Menjaga Ladang dari Serangan Babi Cara Menjaga Ladang dari Serangan Babi

    Fiksi

    Asal Jangan

    By

    Di cakar boleh Asal jangan di tukar Di tukar boleh Asal jangan di bakar Di bakar...

  • kita bercinta kita bercinta

    Fiksi

    Haruskah Aku Membenci Mereka?

    By

    Aku gagal mengingat kapan pertama kali jumpa namun aku langsung gembira tiap kali mereka datang. Aku...

  • kita bercinta kita bercinta

    Fiksi

    Kita

    By

    Terdiam merenung sendu Ku bersenandung rindu Terbayang perjalanan waktu Sebuah kisah masa lalu Tiada lagi nyanyian...

  • cewek manis cewek manis

    Fiksi

    Tak Bisa Sepertimu

    By

    benar katanya percaya lah pada dirimu jika tidak ada lagi yang bisa kau percaya bungkamlah mulutmu...

  • Jawaban Terbaik Jawaban Terbaik

    Fiksi

    Jawaban Terbaik

    By

    Pertemuan yang tak biasa sore itu, saya nilai sebagai bentuk upaya memperbaiki citra dirinya. Sehingga walaupun...

  • Bukn Inginku Melupakanmu Bukn Inginku Melupakanmu

    Fiksi

    Bukan Inginku Melupakanmu

    By

    Kutatap lekat bulir-bulir air yang serupa embun di balik jendela, jemariku mulai menulis sesuatu, namaku dan...

To Top