Connect with us

Baselo

Tauhid Terus, Sampai Kapan?

Kultwit

Tauhid Terus, Sampai Kapan?

Tauhid Terus, Sampai Kapan?


Sebagian kalangan beranggapan bahwa dakwah tauhid tidak rekevan pada zaman sekarang, bahkan mereka menuding bahwa dajwah tauhid adalah radikal, ekstrem bahkan memecah belah umat.

Aduhai, kalau bukan sekarang kita menebarkan tauhid, lantas kapan lagi? Tidakkah kita mempelajari siroh perjalanan dakwah Nabi?!

Syaikh Mubarok al-Mili mengatakan:

“Nabi tidak meninggalkan untuk mengingkari patung-patung ketika sendirian.
Tidak melalaikannya sekalipun ketika dibaikot di Syi’b selama tiga tahun yang mencekam. Tidak melupakannya sekalipun ketika sedang bersembunyi saat hijrah ketika para musuh mencarinya.
Tidak berhenti membicarakannya saat beliau kuat di Madinah di tengah-tengah sahabatnya. Tidak menutup pintu pembicaraan tentangnya setelah Fathu Mekkah.
Tidak juga beliau tersibukkan darinya sekalipun dalam kondisi perang baik menang atau kalah. Tidak puluh mencukupkan untuk perang ketika baiat tetapi selalu mengulang-ngulang ketika baiat tentang tauhid dan meninggalkan syirik.

Inilah siroh Nabi dan hadits-haditsnya yang shahih.

Cermatilah niscaya engkau akan membenarkan apa yang kami sampaikan dan mendapatkan perincian apa yang kami globalkan”. (Risalah Asy-Syirku wa Mazhohiruhu hlm. 19).

Dalam perang Hunain, tatkala sebagian sahabat yang baru masuk Islam meminta kepada Nabi untuk dibuatkan Dhat Anwat (tempat untuk menggantungkan senjata agar menang melawan musuh) maka Nabi mengingkari permintaan mereka dengan keras.

Perhatikanlah hadits ini baik-baik, Nabi tidak diam dari masalah aqidah sekalipun mereka baru masuk Islam dan dalam keadaan perang. Apakah keadaan kita lebih serius dari itu?! (As-Sabil Ilal Izzi wa Tamkin hlm. 44-45 oleh Abdul Malik Romadhoni).

Demikian pula tatkala sampai kabar padanya bahwa di Yaman ada patung yang di sembah yang disebut Dzul Khulashoh saat beliau sudah kuat, maka beliau selalu berpikir dan sedih hatinya lalu mengutus para sahabat untuk menenangkan pikirannya dengan menghancurkan patung Dzul Khulashoh.

Subhanallah jika Nabi tidak tenang pikirannya tatkala sampai kabar kepadanya adanya kesyirikan, lantas bagaimana sebagian para dai sekarang bisa tenang tatkala mengisi tentang akhlak atau politik di masjid yang ada kuburannya tanpa ada sedikitpun tergerak membela tauhid bahkan mungkin malah mencela dakwah tauhid!!! Manakah kecemburuan terhadap tauhid.

Maka dakwah tauhid harus tetap dikibarkan apapun kondisi problematika umat, baik problematika ekonomi seperti yang terjadi pada penduduk Madyan atau problematika moral seperti yang terjadi pada kaumnya Nabi Luth dan lain sebagainya. (Lihat Sittu Duror Min Ushul Ahli Atsar hlm. 22-25 oleh Syakh Abdul Malik Romadhoni).

___
Oleh : Al-Ustâdz Abu Ubaidah, Muhammad Yusuf bin Mukhtar bin Munthohir As-Sidawi

Continue Reading
Comments

More in Kultwit

  • Kultwit

    Sifat Muslim yang Sempurna

    By

    SIFAT MUSLIM YANG SEMPURNA Dari ‘Abdullah bin ‘Umar radhiallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,...

  • Kultwit

    Ragu Apakah Keluar Kentut

    By

    Ragu Apakah Keluar Kentut ✒ Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, Msc حفظه الله تعالى. Sebagian orang dalam...

  • Kultwit

    Keutamaan Pedagang yang Jujur dan Amanah

    By

    Keutamaan Pedagang yang Jujur dan Amanah Dari ‘Abdullah bin ‘Umar radhiallahu ‘anhu bahwa Rasuluillah shallallahu ‘alaihi...

  • Featured

    Buah Keimanan Kepada Takdir

    By

    BUAH KEIMANAN KEPADA TAKDIR Sahabat.. Sungguh berbahagialah orang yang pengimanan terhadap takdir Allah subhanahu wa ta’ala...

  • Kultwit

    Hilangnya Amanah

    By

    HILANGNYA AMANAH Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan bagaimana diangkatnya amanah dari hati. Tidak ada yang...

To Top