Kultwit

GARUDA

Kakak saya pernah dipecat oleh Garuda. Saya bangga mendengarnya. Bukan hanya saya, bahkan kakak saya sendiri bangga pada pemecatan itu. Saya akhirnya bangga pada ketiganya: pada sikap Garuda. Pada reaksi kakak saya, dan pada reaksi saya sendiri. Saya jelaskan secara singkat peristiwanya.

Ia adalah kakak sulung saya. Pribadi yang menjadi panduan moral saya pertama. Ketika ada sebuah pabrik terbakar dan menjadi tontonan, jaraknya dua kilo dari rumah, kakak membangunkan tidur pagi saya lalu menggendong sejauh itu sambil berlari, untuk punya kesempatan melihat ‘’tontonan’’ langka. Saat itu, tahun 70-an. Radio pun barang langka. Apa saja, sepanjang ia keramaian, akan kami anggap tontonan. Saya masih teringat guncangan tubuh saya dalam gendongan kakak dan sengal nafasnya. Ini bukan soal pabrik yang terbakar, ini soal kasih sayang yang nyata seorang kakak pada adiknya. Sampai hari ini, setua ini, kakak masih memperlakukan saya dengan rasa ini.

Saat saya diterima sebagai mahasiswa diploma IKIP Semarang, saat semua sedih karena sibuk kebingungan berpikir bagaimana biayanya, kakak ini satu-satunya pihak yang gembira. ‘’Adikku mahasiwa,’’ katanya nyaris serupa pekikan. ‘’Aku bangga. Tapi soal biaya, carilah sendiri,’’ katanya. Humor jika didengar hari ini. Tetapi saat kalimat itu dulu diucapkan, perih adanya. Kakak hanya bisa menyemangati, tetapi tak bisa membiayai. Tetapi teriakanya itu menggugah semangat saya. Kakak mendedikasikan paginya, dengan cara memboncengkan saya sepeda setiap pagi lalu kami berpisah di perempatan Rumah Sakit Kariadi. Kakak menuju kantornya di bilangan Candi Baru dengan menuntun sepedanya karena jalan menanjak, saya melanjutkan perjalanan dengan cara berjalan kaki menuju kampus. Perpisahan di lampu merah itu selalu sesak di dada. Saya tak tega melihat kakak setiap saat bersepeda melawan deras jalan raya yang keras. Kakak tak tega melihat adiknya hanya bisa jalan kaki tanpa sepeser uang pun di kantongnya.

Kakak semacam itulah yang pernah menggelandang menjadi menjadi pembantu di Jakarta. Keberangkatannya saya antar dengan tangis meraung-raung karena menyangka kakak saya akan hiang dan tak mungkin kembali. Tak ada kabar sekian lama. Jakarta adalah belantara yang jauh. Tetapi sekian tahun kemudian, datang sebuah foto, kakak dengan kacamata hitam, berdiri gagah di samping VW Kombi, saya ingat warnanya: merah, kuning, orange. Sangat menyala. Itulah mobil antar jemput karyawan Garuda Indonesia Airways (GIA). Kakak telah emnjadi sopir kru Garuda.

Sebuah lompatan karier yang membuat kami semua bangga. Setiap kakak bekesempatan pulang dan bercerita tentang pesawat, tentang pilot, tentang hiruk pikuk bandara, kami semua terpana. Kakak adalah pribadi sukses pertama. Kepulangan kakak yang jarang itu, kami sambut sebagai hari besar. Sampai akirnya pulanglah kakak untuk kali ketiga. Saya beteriak-teriak menyambutnya. Tetapi senyum kakak tak biasa. Kepulangan kali ini bukan untuk berlibur. Tetapi ia dipecat dari pekerjaannya. Dengan tidak hormat pula. Karena kakak hanya sopir honorer dan karyawan belum tetap, pemecatannya tak masuk media dan tak perlu melewati Rapat Umum Pemegang Saham.

Kami semua sedih. Hiburan kesedihan itu justru muncul dari kakak sendiri. Ia menerima pemecatannya dengan bangga. Ia dengan besar hati mengaku salah. Mobilnya melaju dan parkir di jalur yang salah. Jalur yang bukan rutenya karena kakak memang mencuri waktu untuk mengantar calon istri ke rumah sakit dengan mobil itu. Saksi pelanggaran ini tak tanggung-tanggung: direkturnya sendiri. Karier kakak selesai seketika.

Di mata kakak, pemecatan itu adalah sebuah kedaulatan hukum yang kakak bangga menyambutnya. ‘’Waktu, waktu dan waktu!’’ begitulah doktrin yang diterima kakak saat harus bekerja di Garuda. Karier itu adalah sebuah kebanggaan sampai kini bagi kakak. Maskapai itu pernah menjadi simbol tegaknya sebuah hukum. Setidaknya di hati seorang sopir yang singkat kariernya.

 

___

PRIE GS