Kultwit

Ketika Ketakutan Mulai Berjalan Ke Kekeliruan

Rasa takut manusia hanya penting ketika ia seimbang dengan rasa harapnya. Itulah mengapa harap dan cemas berpasangan. Melulu takut akan membuat hidup tak menarik karena manusia kehilangan harapan. Melulu berharapan membuat manusia akan kehilangan rasa takut dan berisiko akan kebablasan. Maka harap dan cemas hanya sehat jika beriringan.

Tetapi jika pun keduanya telah beriringan, tak menjamin selesai sebuah persoalan jika keliru apa yang ditakutkan dan keliru apa yang diharapkan. Maka mari kita teliti dan rasa takut manusia modern ini. Ada banyak tanda ketakutan manusia kini berjalan ke arah yang keliru, setidaknya secara ukuran. Takut miskin sehingga melakukan penumpukan sehingga mengganggu peredaran. Takut lapar sehingga tebing dan gunung pun dimakan. Takut hidup sederhana sehingga harus korupsi walau hidup telah berkelimpahan.

Jika berbisnis yang ia takuti semata-mata hanya berkurangnya keuntungan. Untung tetapi kecil, maka itu telah menakutkan. Maka amdal, kesejahteraan buruh, kerusakan lingkungan bukan soal yang harus ditimbang. Kalau itu penguasa, maka ketakutannya sekadar takut dilengserkan. Maka untuk itu, apa saja bisa dilakukan walau nasib bangsa dipertaruhkan. Kalau politik, ketakutan terbesarnya hanyalah kalau tak kebagian kekuasaan. Maka untuk itu boleh berpolitik dengan instink serupa hewan-hewan. Jika itu sukses ego sektoral maka yang disebut sebagai sukses hanyalah kenaikan pendapatan asli daerah dan kenaikan pajak biarpun ia harus mencemari sungai, menggunduli hutan dan mencemari langit dengan polutan.

Demi itu semua kita tak takut lagi kehilangan unsur terpenting manusia yakni kemanusiaan itu sendiri. Karena manusia hanya bisa menjadi manusia kalau ia kuat lapar, kuat menahan diri, kuat hidup bersahaja. Karena kekuatan itulah yang membuat manusia masih bisa mencintai sesamanya.

___
Prie GS
Photo by Kamila Maciejewska on Unsplash