Kultwit

Seminar Nasional, Wartawan Lokal, Koran Daerah, Sudah Tak Ada

Seminar Nasional, Wartawan Lokal, Koran Daerah, Sudah Tak Ada

Sebuah termilogi, sebuah kata, ia bisa menjadi stigma karena ia mewakili dunia dalam pemakainya. Kecenderungan membesar-besarkan sesuatu, justru makin menegaskan betapa sejatinya sesuatu kecil belaka. Sebuatan mega bintang, mega promo mega sinema sampai mega sinetron, tampaknya ngotot dan terengah-engah dan kehilangan kewajarannya. Sementara film-film besar, musik-musik besar dan novel-novel besar malah lebih banyak disebut secara rendah hati: epik. Aneka karya itu mengatakan kebesarannya lewat dirinya sendiri. Tak lewat kemasan-kemasan sebutan.

Begitu juga sebutan rapat akbar, pengajian akbar. Kata akbar tampak begitu ambisius sampai manusia yang hanya remah-remah ini, mentang-mentang sedang berkumpul di lapangan lalu merasa akbar dan bersiap menyaingi Sang Maha Akbar.

Begitu juga sebutan pusat dan daerah. Sudah lama pilihan kata ini memiliki implikasi serius. Pusat itu tiba-tiba berarti lebih layak dilayani, diistemewakan, dipentingkan, didahulukan dengan daerah sebagai pelayan, pengawal dan pengikut. Seminar nasional, koran nasional, TV nasional juga menjadi terlalu gagah dibanding koran, TV dan seminar lokal. Apa jadinya? Ada konsekuensi yang tak sederhana, para lokal itu merasa dirinya benar-benar sebagai lokal dengan aneka dampak psikologisnya.

Beruntunglah sosoal datang membantu: kini anak-anak di Boyolali bisa menjadi seleb di Instagram hanya dengan cara merekam kegiatannya menyabit rumput yang asyik dan gembira. Gitaris asal Bojonegoro, anak-anak di Makassar, Papua, bocah-bocah ngapak menjadi pusat bagi dirinya dan TV-TV yang disebut nasional itu tinggal mengekor popularitas mereka. Di dalam diri Anda dan saya ada kualitas sebagai pusat.

 

___

Prie GS