FeaturedKultwit

Wabah Virus Corona dan Pertahanan Spiritual

Mengapa wabah paling mematikan pun tak kuasa memberangus seluruh populas umat manusia? Rasanya ada yang tak bisa ditembus oleh virus paling menakutkan sekalipun yang bahkan virus itu sendiri tak memiliki: benteng spiritual manusia. Itulah benteng yang melingkari Perang Badar, salah satu tonggak penting dalam peradaban, betapa ada jenis perang ketika kedudukan militer tak cukup berarti di hadapan kedudukan spiritual.

Cara kerja energi spiritual itu seperti kini: jika seseorang berhasil nenimbun masker di saat orang lain sangat membutuhkan, bukan pihak yang kehabisan masker itu yang akan mati, melainkan si penimbun. Timbunan masker itu boleh ia pakai sendiri, begitu juga dengan sembako, antibiotik dan apa saja, boleh ia kangkangi sendiri untuk mengamankan dirinya sendiri. Tapi percayakah Anda kalau orang itu akan selamat? Tidak. Ia akan mati dengan kematian yang lebih nelangsa.

Kehormatannya akan mati. Kemanusiaannya akan mati. Keberkahan hidupnya akan mati. Keuntungan yang ia dapatkan akan mengalir ke tubuh anak turunnya dengan tingkat pencemaran yang berkalilipat dari limbah radiokatif. Ia akan menjadi buah tutur yang hina sepanjang zaman. Apa menariknya dari hidup seperti itu? Tak ada. Jangankan hidup, telah matipun ia akan mewariskan gunungan perkara. Maka kepada siapa saja saudaraku yang tak berdaya, yang harus mencari nafkah di tempat-tempat kotor, yang harus merawat keluargga, saudara, dan sesamanya. Jangan ragu. Lalukan tugasmu. Kenanglah Ibu Theresa ketika harus memunguti para penyandang kusta. Beliau tak sibuk mencari masker, tetapi langsung memondong anak-anak itu. Dan dunia menyaksikan dengan gagah, siapa yang lebih mulia antara Beliau dan para penimbun itu. Maka kepada engkau yang bahkan tak mudah untuk setiap kali mencuci tangan karena keterbatasanmu, tenanglah. Makanlah dengan gembira. Bersalamanlah dengan hangat. Energi itu akan melindungimu karena campur tangan Tuhanmu. Kau tak perlu menghirup udara murni dan memakai masker setiap hari dan menganggap seluruh dunia adalah limbah. Jangan menganggap isi dunia telah menjad begitu menjijikkan semata-mata karena ketakutanmu.

Oksigen murni itu ternyata tak banyak arti jika hati dan perilaku seseorang bermasalah. Orang-orang besar dan mulia itu menjadi mulia justru di tengah lautan masalah. Inilah saatnya bersedekah. Jika kau tak memiliki apapun untuk disedekahkan cukuplah bersedekah dengan ketenanganmu. Makanlah apa yang ada di depamu walau ia dianggap jauh dari higienis kalau memang hanya itu milikmu. Tetapi berdoalah. Mintalah kepada Tuhan agar makanan itu diberkahi. Soal bagaimana berkah itu bekerja jangan kau urus, serahkan saja pada Tuhanmu.

 

___

Prie GS